Inilah Masjid yang Mirip Dengan Bangunan Candi Hindhu

Coba sambangi Masjid Menara Kudus di Jalur Menara Kabupaten Kudus, di luar hari besar Islam. Komplek masjid seluas 2, 400 m persegi( dengan besar masjid 846 m persegi) itu hampir tidak sempat hening. Hingga bisa dicerminkan riuhnya areal masjid dikala menjelang Ramadan sampai Idul Fitri ataupun 1 Muharam.

 

Masjid yang dibuat oleh Ja’ far Shodiq ataupun Sunan Kudus pada 1549 Kristen itu memanglah jadi oase untuk para pengunjung. Mereka berharap di kober Sunan Kudus yang sewaktu hidup diketahui bagaikan pakar fikih serta advokat Kasultanan Demak.

 

Mereka pula melawat kober 4 dari 8 anak Sunan Kudus, ialah Panembahan Palembang, Panembahan Makaos, Pangeran Pancaswati( menantu), serta Pangeran Sujoko. 4 putra Sunan Kudus yang lain tidak dimakamkan di lingkungan itu.

 

Para pengunjung biasanya mau mendekatkan diri pada Allah Swt lewat kober Sunan Kudus, sekalian ngalap bantuan( mencari bantuan), serta–tentu saja– doa di masjidnya. Banyak jamaah yang mau menaiki menara setinggi 17, 45 m itu, serta berharap di puncaknya. Tetapi, menara yang wujudnya mendekati dengan Candi Ahli, penguburan Raja Wisnuwardhana( dibuat pada 1275–1300 Meter) di dekat Apes Jatim itu saat ini ditutup buat biasa.

Baca juga : Inilah Masjid dengan Arsitek Mirip Kelenteng

 

Para pengunjung serta jamaah masjid, bagi Haidar Bagir, yang tiba itu tentu tengah mempraktekkan irfan( kebatinan teoritis), kalau adat lebih berkesempatan mempunyai tempat yang keramat dalam keberagamaan. Tuhan diyakini bagaikan bentuk transenden yang ber- tajalli ataupun bermanifestasi dalam ciptaan- ciptaannya. Hingga, mendalami adat ialah pangkal wawasan serta pendalaman kepada agama itu sendiri.

 

Inilah aplikasi keberagamaan di masjid yang jadi ikon Islam Nusantara, tercantum seremoni Buka Luwur ataupun penukaran kelambu jungkup kober Sunan Kudus, Sunan Muria, Sunan Khadiri( Mantingan). Buka Luwur dicoba saban 1 Muharam( membuka kelambu) serta 10 Muharam( mengubah kelambu).

 

Baca juga : Arsitektur yang Hebat Masjid Agung Djenne di Mali, Terbuat dari Lumpur

 

Bila Talibanisme sempat memusnahkan arca Buddha di wilayah Bamiyan Afganistan, serta ISIS melawan perwujudan adat lokal, Sunan Kudus nyata memandang agama bagaikan apresiasi pada adat bagaikan pangkal kebajikan. Banyak narasi mengenai usaha Sunan Kudus, sebutan Gus Dur mempribumisasikan Islam. Misalnya kala Sunan Kudus menghasilkan tembang Gending Maskumambang serta Mijil yang sastrawi itu.

 

Faktor Hindu pada Masjid Menara Kudus dengan cara kasat mata dapat diamati dari arsitekturnya, ialah menara, gapura- gapura di lingkungan masjid, pendopo- pendopo kober, serta tembok penutup lingkungan yang berbenteng batu bata menyamai candi. Asbes menumpang bersusun 3 yang menutupi masjid kian memperjelas faktor Hindu itu, yang setelah itu diterjemahkan bagaikan ikon kepercayaan, Islam, serta ihsan.

 

Tempat berabdas dengan 8 keran air serupa belaka dengan filosofi keyakinan Budha, kalau orang wajib lewat 8 rute bukti bila mau sukses dalam kehidupan, ataupun astasanghikamarga. 8 rute itu mencakup wawasan, ketetapan, percakapan, aksi, metode nafkah, energi upaya, khalwat, serta kontemplasi.

 

Guru besar Soetjipto Wirjosuprapto dalam bukunya Asal usul Menara Masjid Kudus berkata, kaki menara berupa panjang jebakan itu cocok dengan wujud candi pada era pra- Islam. Kombinasi Hindu serta Islam nampak pada pahatan dindingnya, yang bersusun 4, serta dimaksud bagaikan syariat, tarikat, ma’ rifat, serta dasar. Di bagian dalam menara ada tangga kusen asli yang berangka tahun 1313 H ataupun 1895 Meter.

 

Menguasai Seluk- beluk Wahdatul Wujud

 

Coba sambangi Masjid Menara Kudus di Jalur Menara Kabupaten Kudus, di luar hari besar Islam. Komplek masjid seluas 2, 400 m persegi( dengan besar masjid 846 m persegi) itu hampir tidak sempat hening. Hingga bisa dicerminkan riuhnya areal masjid dikala menjelang Ramadan sampai Idul Fitri ataupun 1 Muharam.

 

Para orang dagang, turis, serta pengunjung tiba dari bermacam wilayah di Indonesia, berbus- bus. Kolam kawanan kukila burung pintang yang pindah, akur.

 

IKLAN- LANJUTKAN MEMBACA DI Dasar INI

 

Masjid yang dibuat oleh Ja’ far Shodiq ataupun Sunan Kudus pada 1549 Kristen itu memanglah jadi oase untuk para pengunjung. Mereka berharap di kober Sunan Kudus yang sewaktu hidup diketahui bagaikan pakar fikih serta advokat Kasultanan Demak.

 

Masjid Menara Kudus.( Gambar: Andi Erik)

 

Mereka pula melawat kober 4 dari 8 anak Sunan Kudus, ialah Panembahan Palembang, Panembahan Makaos, Pangeran Pancaswati( menantu), serta Pangeran Sujoko. 4 putra Sunan Kudus yang lain tidak dimakamkan di lingkungan itu.

 

Para pengunjung biasanya mau mendekatkan diri pada Allah Swt lewat kober Sunan Kudus, sekalian ngalap bantuan( mencari bantuan), serta–tentu saja– doa di masjidnya. Banyak jamaah yang mau menaiki menara setinggi 17, 45 m itu, serta berharap di puncaknya. Tetapi, menara yang wujudnya mendekati dengan Candi Ahli, penguburan Raja Wisnuwardhana( dibuat pada 1275–1300 Meter) di dekat Apes Jatim itu saat ini ditutup buat biasa.

 

Gambar: Andi Erik

 

Para pengunjung serta jamaah masjid, bagi Haidar Bagir, yang tiba itu tentu tengah mempraktekkan irfan( kebatinan teoritis), kalau adat lebih berkesempatan mempunyai tempat yang keramat dalam keberagamaan. Tuhan diyakini bagaikan bentuk transenden yang ber- tajalli ataupun bermanifestasi dalam ciptaan- ciptaannya. Hingga, mendalami adat ialah pangkal wawasan serta pendalaman kepada agama itu sendiri.

 

Inilah aplikasi keberagamaan di masjid yang jadi ikon Islam Nusantara, tercantum seremoni Buka Luwur ataupun penukaran kelambu jungkup kober Sunan Kudus, Sunan Muria, Sunan Khadiri( Mantingan). Buka Luwur dicoba saban 1 Muharam( membuka kelambu) serta 10 Muharam( mengubah kelambu).

 

Gambar: Andi Erik

 

Hindu- Islam

 

Bila Talibanisme sempat memusnahkan arca Buddha di wilayah Bamiyan Afganistan, serta ISIS melawan perwujudan adat lokal, Sunan Kudus nyata memandang agama bagaikan apresiasi pada adat bagaikan pangkal kebajikan. Banyak narasi mengenai usaha Sunan Kudus, sebutan Gus Dur mempribumisasikan Islam. Misalnya kala Sunan Kudus menghasilkan tembang Gending Maskumambang serta Mijil yang sastrawi itu.

 

Baca juga : harga jam digital masjid

 

Faktor Hindu pada Masjid Menara Kudus dengan cara kasat mata dapat diamati dari arsitekturnya, ialah menara, gapura- gapura di lingkungan masjid, pendopo- pendopo kober, serta tembok penutup lingkungan yang berbenteng batu bata menyamai candi. Asbes menumpang bersusun 3 yang menutupi masjid kian memperjelas faktor Hindu itu, yang setelah itu diterjemahkan bagaikan ikon kepercayaan, Islam, serta ihsan.

 

Tempat berabdas dengan 8 keran air serupa belaka dengan filosofi keyakinan Budha, kalau orang wajib lewat 8 rute bukti bila mau sukses dalam kehidupan, ataupun astasanghikamarga. 8 rute itu mencakup wawasan, ketetapan, percakapan, aksi, metode nafkah, energi upaya, khalwat, serta kontemplasi.

 

Gambar: Andi Erik

 

Arsitektur mempunyai bahasanya sendiri. Arsitektur merupakan suatu mimik muka mengenai pandangan, keyakinan, serta harapan orang. Guru besar Arkeologi Asia Barat Universitas London MEL Mallowan, mengatakan kalau di dalam arsitektur Islam ditemui buah pikiran, marah, serta rasa puitis yang dengan cara hidup disampul oleh keelokan bangunannya.

 

Mallowan membidikkan kalimatnya buat arsitektur Islam di Jazirah Arab serta Timur Tengah, tetapi sejatinya pernyataan itu cocok disematkan di Indonesia.

 

Menara Masjid Kudus dapat dibilang satu dari demikian menara masjid yang sangat khas di Indonesia. Menara yang dibentuk pada 1685 Kristen itu berbentuk gundukan batu bata merah tanpa semen serta dipecah jadi 3 bagian, ialah kaki, tubuh, serta pucuk.

 

Gambar: Andi Erik

 

Guru besar Soetjipto Wirjosuprapto dalam bukunya Asal usul Menara Masjid Kudus berkata, kaki menara berupa panjang jebakan itu cocok dengan wujud candi pada era pra- Islam. Kombinasi Hindu serta Islam nampak pada pahatan dindingnya, yang bersusun 4, serta dimaksud bagaikan syariat, tarikat, ma’ rifat, serta dasar. Di bagian dalam menara ada tangga kusen asli yang berangka tahun 1313 H ataupun 1895 Meter.

 

Baca pula:

 

Al Aminah, Masjid Terapung di Teluk Lampung

 

Pada pintu kober Sunan Kudus terpahat perkataan al- asma al- husna serta tahun nilai Jawa 1895 ataupun 1296 Hijriah ataupun 1878 Kristen. Wujud nisannya serupa dengan nisan- nisan di kober orang tua di Demak. Pada tiang- tiang tajug ada nilai tahun 1145 H ataupun 1732 Meter, sebaliknya pada gerbang di depan kober tercatat nilai 1216 H. Perbandingan tahun ini nyata membuktikan durasi membuat yang tidak sekalian ataupun berangsur- angsur.

 

Gerbang jadi ciri lain, merelaikan ruang- ruang. Di serambi depan ada gerbang Kori Agung yang wujudnya mendekati candi Bajang Istri raja di Jatim. Gapura- gapura yang lain merupakan gerbang Lawang Sebandung, gerbang berupa Candi Membegari, pula gerbang beratap tidak berpintu.( Nurhidayati: Masjid Bagaikan Bukti diri Suatu Kota. Skripsi Bidang Arsitektur UI, 2001).

 

Semenjak medio 60- an, masjid kuno ini sebagian kali dipugar, tercantum menyelimuti pucuk masjid( mustaka) seberat 320 gr dengan kencana 24 karat. Lingkungan Masjid Menara Kudus tidak cuma jadi simbol Kudus, tetapi pula ikon Islam Nusantara, memadukan pemeluk yang tiba dengan tujuan berbeda- beda.