Cerita Masjid Berumur di Aceh, Tidak Dapat Tumbang serta Jadi Tempat Rehat Serdadu Belanda

Masjid Berumur di Aceh

 

Gedung semi permanen yang ialah Masjid Gunong Kleng ini didominasi kusen. Salah satu masjid tertua di Aceh ini tidak cacat dikonsumsi era walaupun telah terdapat semenjak 1927.( Liputan6. com atau Rino Abonita)

 

Liputan6. com, Aceh- Bercak air di bilik nampak jelas. Corak cat nampak kumal serta mengelupas di sebagian bagian, tanda- tanda umur gedung itu tidak lagi belia.

 

Kediaman antre ditata tidak harmonis mengayomi teras gedung. Suatu kubah bertumpang piramida takir serta bawang yang diapit 2 kubah limasan berdiri di atasnya.

baca juga : Kodrat Masjid- Masjid Kuno di Banyumas

Kubah penting pula berupa piramida takir dihiasai lisplang kerawang tiap sisinya. Pola lengkungan lisplang berbahan kusen yang menjuntai di pinggiran kubah menunjukkan opini berseni.

 

Tiap- tiap kubah mempunyai mustaka yang menjulang tanpa riasan bulan bintang di atasnya. Mustaka kubah penting masjid berumur itu didesain mendekati obelisk dihiasi bulatan berhentuk jambangan dengan gayung kecil di atasnya.

 

Arsitektur gedung terus menjadi nampak bagus dengan terdapatnya minaret. Tempat si bilal melantamkan bang yang terletak di bagian kanan atas mihrab.

 

Bilik dalam gedung bercelup hijau biasa aqua marine dengan lelangit yang didiamkan terbuka. Suatu pilar kusen terpacak di tengah, memapah kuda- kuda gedung masjid berumur itu.

 

3 buah jelukan yang ialah mihrab dibentuk permanen. Tengahnya berupa undakan, tempat penceramah berkotbah.

 

Gedung semi permanen yang ialah Masjid Gunong Kleng ini didominasi kusen. Tetapi tidak cacat dikonsumsi era dari dibentuk pada 1927 dahulu.

 

Masjid ini dulu kala jadi tempat ibadah sekalian ajakan orang Aceh. Para orang dagang kerap istirahat di rumah ibadah yang pada era itu bernama Masjid Nurul Anugerah.

 

2 dari 2 halaman

 

Karamah Ulama

 

Masjid Berumur di Aceh

 

Dulu masjid ini jadi tempat ibadah sekalian ajakan. Para orang dagang kerap istirahat di rumah ibadah yang pada era itu bernama Masjid Nurul Anugerah.( Liputan6. com atau Rino Abonita)

 

Masjid memiliki ini dibentuk dengan cara swadaya atas prakarsa malim setempat. Konsep masjid tuturnya direplikasi dari Masjid Baiturrahman yang terdapat di Banda Aceh, walaupun hasilnya tidak mendekati.

 

Di antara para malim yang membuat masjid itu merupakan Tengku Arsyad serta Tengku Tayeb. Keduanya bersama kaum dikala itu mengarah Kutaraja, saat ini Banda Aceh, buat memandang langsung serta menekuni wujud Masjid Baiturrahman.

 

” Masyarakat warga Dusun Gunong Kleng. Tokoh- tokoh era dahulu. Tengku- tengku ataupun ulama- ulama era dahulu yang membuat,” ucap kepala dusun setempat, Zulkifli( 55), pada Liputan6. com, sebagian durasi kemudian.

 

Kusen buat kontruksi masjid merupakan kusen ketapang( Terminali catappa), sedangkan pilar penting dibuat dari kusen merbau( Intsia bijuga). Bahannya didapat dari hutan dusun setempat.

 

Jumlah kubah masjid itu terencana dibentuk sebesar 5 buah, tercantum kubah minaret. 5 kubah diucap pula Tampong limong, merujuk pada hukum Islam, ialah, syahadat, doa, amal, puasa, serta berhaji untuk yang sanggup.

 

Separuh gedung baris genjang berbenteng batu, dibuat dari adukan pasir serta putih telur, dengan ketinggian dari tanah dekat separuh m lebih. Selainnya berbenteng kediaman berbumbungkan seng.

 

Karamah para malim yang membuat masjid diyakini membuat baya gedung terpelihara. Masjid itu sedang kuat berdiri walaupun sudah dewasa nyaris 100 tahun, sementara itu tidak sempat direnovasi, melainkan atapnya.

 

” Jika dimohon hujan- hujan, jika kemarau- kemarau,” Zulkifli menceritakan pertanyaan karamah para malim yang membuat masjid itu.

 

Di depan Masjid Gunong Kleng sudah dibentuk masjid terkini yang ukurannya jauh lebih besar. Kabarnya, masyarakat sempat berupaya menjatuhkan masjid itu buat meluaskan gedung masjid yang terkini, tetapi kandas.

 

Masjid itu jadi esensial ritual pada masanya. Tidak hanya pula jadi tempat mampir orang dagang yang tiba dari arah selatan Aceh.

 

” Terdapat sebagian dusun yang doa di sana. Dusun Peunaga Pasi, Peunaga Cut, Peunaga Rayeuk ke sana ibadah,” ucap Zulkifli.

 

Belanda pada awal mulanya beranggapan masjid itu kastel kecil. Tidak tidak sering serdadu Belanda serta Jepang dikala itu istirahat di masjid itu.

 

Masjid Gunong Kleng terdapat di tepi jalur nasional Meulaboh- Tapak Tuan, ataupun dekat 8 km dari pusat kota. Persisnya di sisi kanan jembatan tidak jauh dari belokan Alue Peunyareng mengarah Kampus Universitas Teuku Umar( UTU).

 

Tidak terdapat ciri spesial kalau masjid itu ialah aset memiliki. Melainkan suatu plang Departemen Pembelajaran serta Kultur yang menarangkan kalau masjid itu ialah web cagar adat.

 

Masjid ini sejatinya menggantikan kemajuan masjid konvensional dari era ke era. Paling utama wujud asbes menumpang serta kubah dengan polesan arsitektur konvensional yang akulturatif antara corak mempercantik lokal dengan anutan Islam.