Jam Kuno yang Berada Di Masjid  Bandungan Kabupaten Semarang

Kuno nan konvensional, tetapi cermat. Seperti itu alibi Takmir Masjid Angkatan laut(AL) Huda di Desa Ngawinan, Bandungan Kabupaten Semarang, Jawa Tengah sedang menjaga kehadiran jam bencet ataupun istiwa. Di area Pondok Madrasah Angkatan laut(AL) Mina, Bandungan, jam bencet sedang dijadikan referensi penting buat memastikan durasi shalat untuk masyarakat Bandungan serta sekelilingnya.” Jam bencet ini( jam) benih, di mana masing- masing hari wajib membandingkan antara jam bencet serta masjid menjajaki,” tutur badan Takmir Masjid Angkatan laut(AL) Huda, KH Zaenal Muttaqin, Sabtu( 19 atau 5 atau 2018). Jam bencet di laman masjid Angkatan laut(AL) Huda ini keadaannya sedang amat terpelihara. Terdapat 2 bagian dalam jam bencet ini. Bagian awal ialah barisan angka- angka serta garis- garis dalam aspek cekung separuh bundaran yang dilapisi lempengan kuningan. Aspek cekung inilah yang membuktikan diagram shalat 5 durasi. Bagian kedua merupakan suatu pakis yang panjangnya 4 sentimeter. Pakis dipasang di bilik bagian tengah jam bencet yang mengaitkan dengan aspek cekungan. Letaknya sekelas dengan sumbu dunia mengarah ke utara, alhasil menunjuk ke arah kutub- kutub langit. Dikala pakis itu terserang cahaya mentari, hingga bayangannya hal diagram durasi shalat dalam aspek cekung. Dalam situasi seperti itu hingga men catat telah masuk durasi shalat.

Baca juga : Inilah Masjid yang Mirip Dengan Bangunan Candi Hindhu

Karena amat tergantung dengan cahaya mentari, hingga cuma dini durasi shalat tengah hari serta ashar saja yang dapat diamati dengan cara kasat mata dari jam bencet ini. Selainnya, buat mengenali dini durasi maghrib, isya, serta dinihari, badan takmir memakai kalkulasi khusus dengan mencermati posisi mentari, kala pas jam 12. 00 Wib durasi istiwa, ataupun kalkulasi jam bencet.” Jadi jam masjid disetel membuktikan jam istiwa durasi tengah hari. Itu bikin referensi pada dikala maghrib, isya serta dinihari,” ucap Zaenal. Salah seseorang Pengasuh Pondok Madrasah Angkatan laut(AL) Mina Bandungan, Dwi Sutoro mengatakan, jam bencet di laman masjid Angkatan laut(AL) Huda telah sebagian kali dipindahkan letaknya. Perihal ini dicoba sebab posisi awal telah terhalang dari gedung terkini serta pepohonan.” Semenjak Masjid Angkatan laut(AL) Huda dibentuk, jam bencet ini sedang jadi referensi masyarakat Bandungan serta sekelilingnya. Bila di mari belum bang, hingga masjid serta mushala yang lain juga belum bang,” tutur Dwi. Karena tidak berubah- ubah dengan jam bencet ini, hingga dikala ditanyakan, di mana awal kali bang berkemandang di wilayah Bandungan, hingga warga hendak menanggapi di Masjid Angkatan laut(AL) Huda. Bila masjid Angkatan laut(AL) Huda memperdengarkan bang, hingga semua masjid yang terdapat di lereng tenggara Gunung Ungaran ini mengikutinya. Pihak Ponpes Angkatan laut(AL) Mina memanglah dengan cara teratur menemukan kewajiban buat mengecek dan mensterilkan bagian untuk bagian jam istiwa ini. Tetapi, diakui Dwi, terus menjadi hari terus menjadi sedikit orang yang menguasai metode kegiatan jam bencet ini.

Baca juga : Inilah Masjid dengan Arsitek Mirip Kelenteng

Mengetahui situasi ini, Ponpes Angkatan laut(AL) Mina saat ini dengan cara teratur mengajak para santri berlatih bersama mengenai gimana membagi serta mengenali durasi doa berdasar pada cahaya mentari.” Sesekali kita pula mendatangkan karyawan Kemenag buat mencoba ketepatan hitungan jam bencet. Kita beriktikad, barometer penanda durasi doa lebih cermat bila memedomani jam bencet ini,” ucap Dwi. Salah satu anak didik MTs Angkatan laut(AL) Mina Bandungan, Aldila Fatma Azahra( 12) membenarkan, awal mulanya ia bimbang buat menguasai gimana membaca petunjuk yang tercatat di jam bencet ataupun istiwa. Tetapi, dengan edukasi dari penjaga serta guru, beliau bersama sahabatnya juga saat ini bisa gampang memastikan bila durasi doa tengah hari serta ashar.” Nyatanya gampang melainkan durasi apakah telah masuk durasi doa ataupun belum dengan cahaya mentari,” tutur Aldila. Bersumber pada narasi pengasuh ponpes, pembuatan jam mentari di bumi Islam dicoba oleh Ibnu al- Shatir, seseorang pakar astronomi Mukmin yang hidup pada tahun 1304- 1375 Kristen, pada era Bangsa Umayyah di Damaskus, Suriah. Tidak tahu sampai bila kehadiran jam bencet ataupun istiwa ini bisa bertahan di tengah bertumbuhnya teknologi modern. Tetapi, bagaikan instrumen falak klasik, wawasan hal jam bencet butuh dilestarikan. Dengan begitu, peninggalan keilmuan malim terdahulu ini tidak musnah ditelan era.