pengaruh mataram terhadap batik

Munculnya Batik Di pengaruhi Kerajaan Mataram Islam 

Munculnya Batik Di pengaruhi Kerajaan Mataram Islam

Kerajaan Mataram Islam bisa jadi dimulai ketika Raden Danang Sutawijaya naik setelah ia merebut wilayah Pajang sepeninggal Hadiwijaya.

la naik takhta dengan Panembahan Senopati.  Selama pemerintahannya, secara terus-menems berperang untuk menundukkan bupati-bupati daerah seperti Kasultanan Demak. Ponorogo, Pasuruan, Kediri, dan Surabaya.

Cirebon pun berada di bawah Panembahan Senopati diagungkan sebagai pembangun Mataram. Panembahan Senopati wafat pada tahun 1601.

 Setelah Panembahan Senopati wafat, kekuasaannya digantikan oleh anaknya yang bernama Mas Jalang dengan gelar Panembahan Seda Krapyak. la wafat tahun 1613 dan digantikan Mas Rangsang yang bergelar Sultan Agung Hanyokrokusumo.

Di bawah kekuasaannya, Mataram mengalami masa kejayaan. Ibukota Mataram di Kotagede dipindahkan ke Keraton Plered.

Sultan Agung digantikan oleh putranya yang bergelar Amangkurat l yang memerintah Mataram hingga tahun 1676.

Pada masa itu diwarnai dengan perebutan kekuasaan dan berbagai pertempuran berdarah. Perebutan pengaruh dan kekuasaan dalam Kerajaan Mataram melibatkan juga VOC, orang-orang Tiongkok, dan para ulama.

Sejak saat itu silih berganti terjadi pertempuran perebutan kekuasaan, perang saudara, perpindahan ibukota, dan pembahan dukungan terhadap VOC. Mengiringi semua peristiwa itu juga terjadi perluasan daerah kekuasaan, penyebaran agama islam, dan pengenalan batik terutama di Pulau Jawa.

Puncak dari perebutan kekuasaan dan perang saudara di Kerajaan Mataram adalah antara Paku Buwana III dengan Pangeran Mangkubumi.

Perseteruan itu menyebabkan VOC berada di atas angin. VOC lalu mengutus seorang Arab dari Batavia untuk mengajak Pangeran Mangkubumi berdamai.

Perdamaian itu sering disebut dengan peristiwa Palihan Nagari atau Perjanjian Giyanti pada tahun 1755. Inti dari isi Perjanjian Giyantl adalah Kerajaan Mataram dibagi menjadi dua.

Wilayah bagian barat diberikan kepada Pangeran Mangkubumi yang diizinkan memakai gelar Hamengku Buwana l dan mendirikan Keraton di Yogyakarta.

Sedangkan, wilayah bagian timur diberikan kepada Paku Buwana III.

Sejak saat itulah Kerajaan Mataram menjadi dua, yaitu Kasuttanan Yogyakarta dengan raja Sri Sultan Hamengku Buwana l, dan Kasunanan Surakarta dengan raja Sri Susuhunan Paku Buwana III.

Perpecahan antara Kasunanan Surakarta dengan Kasultanan Yogyakarta sebagai akibat dari Perjanjian Giyanti, ternyata juga berdampak pada perkembangan batik.

Seluruh busana kebesaran Kerajaan Mataram dibawa ke Keraton Yogyakarta.

Sementara itu, Paku Buwana III memerintahkan kepada para abdi dalem untuk membuat sendiri motif batik Gagrak Surakarta.

Dari perintah itu para abdi dalem dan masyarakat terpacu untuk membuat corak batik sendiri.

Akibatnya, kala itu muncul banyak motif batik khas Surakarta yang berbeda dengan motif batik Yogyakarta.

Karya batik yang dihasilkan digunakan sebagai pakaian raja dan keluarga, serta para abdi dalem.

Batik dengan motif tertentu hanya boleh dikenakan kalangan istana, sedangkan masyarakat tidak diperkenankan.

Oleh karena itu, menurut Musman dan Arini (2011), tahun 1769 Paku Buwana lll mengeluarkan larangan sebagai berikut “Ana dene kang arupa jajarit kang ing larangan ingsun: batik sawat lan batik parang rusak batik cumangkiri kang calacap, medang, bangun-tulak, lenga-teleng, daragem lan tumpal.

Anadene batik cumangkirang ingkang acafacap lung-lungan utawa kekembangan, ingkang mgsun kawenangaken anganggoha pepatih ingsun lan sentana ingsun, kawulaning wedana”.

Kondisi dan ketentuan itulah yang memengaruhi perkembangan batik khususnya di Surakarta. Cara pandang dan pola pemakaian batik oleh masyarakat pun mengalami pembahan.

Akhirnya terbentuk semacam konsepsi tentang pengertian batik klasik dan batik tradisional.

Batik Surakarta terkenal dengan corak dan pola tradisionalnya.

Bahan-bahan yang dipergunakan untuk pewarnaan masih tetap banyak memakai bahan-bahan dalam negeri seperti soga Jawa yang sudah terkenal sejak dahulu.

Motif batik Surakarta yang terkenal,  antara lain Sido Mukti dan Sido Luruh.

Lambat laun masyarakat tertarik dan mencoba meniru kegiatan membatik itu. berbeda ketika penjajahan belanda yang membawa pengaruh terhadap batik di indonesia

Pelan tetapi pasti, akhirnya tradisi membatik keluar dari tembok keraton dan meluas ke berbagai daerah.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *