pengaruh islam terhadap Batik

Pengaruh Islam Bagi Perkembangan Batik

Penyebaran Agama Islam terhadap batik

Sejarah pertumbuhan dan Perkembangan batik di Indonesia memang sudah berlangsungng sejak zaman Majapahit atau bahkan masa sebelumnya.

Namun, menurut pakar batik Indonesia, KRT Hardjonagoro, sejarah dan perkembangan batik di Nusantara mulai terekam sejak masa Kerajaan Mataram Islam (abad ke-17) di Jawa Tengah.

Keberadaan batik juga berhubungan dengan penyebaran agama Islam di Pulau Jawa.

Daerah-daerah pusat perbatikan di Jawa seperti Ponorogo, Pekalongan, Cirebon, dan Indramayu sekaligus juga merupakan daerah santri. salah satunya pabrik batik yang ada disragen.

Di daerah-daerah itu, kemudian batik menjadi alat perjuangan ekonomi oleh tokoh-tokoh pedagang muslim untuk melawan hegemoni kekuasaan ekonomi Belanda.

Pada awal abad ke-20, batik menjadi salah satu identitas sekaligus saka guru perekonomian masyarakatJawa.

Ketika itu, batik telah memasuki era industrialisasi dengan terbentuknya kelompok-kelompok pedagang.

Salah satu organisasi yang terkenal adalah Sarekat Dagang Islam yang dipelopori oleh K.H. Samanhudi.

Beliau memiliki jaringan dagang yang kuat ke Kudus, Surabaya, Gresik. Tuban, Cirebon. Bogor hingga ke Batavia dan luar Jawa.

 Berdirinya Sarekat Dagang Islam dilatar belakangi oleh persaingan dagang antara orang-orang Tiongkok dan Belanda.

Organisasi ini menunjukkan eksistensinya sebagai masyarakat pribumi Jawa Islam di tengah kekuasaan kolonial Belanda.

Organisasi ini sekaligus berperan mempertahankan eksis- tensi batik sebagai salah satu pilar ekonomi masyarakat Jawa.

Pada akhirnya, Sarekat Dagang Islam menjadi salah satu organisasi perintis kemerdekaan Indonesia.

Pada masa-masa kerajaan Islam, dimulai dari Kerajaan Mataram Islam, berbagai bentuk kesenian mengalami perubahan perwajahan dan karakter.

Perwujudan berbagai bentuk kesenian mengalami perubahan dari yang bersifat Hindu menjadi yang bernuansa islami.

Pembahan ini melanda semua cabang kesenian seperti wayang kulit, ketoprak, batik, dan sebagainya. Perubahan itu dengan tujuan untuk menghindari wujud dimensi manusia dan hewan yang sesungguhnya sebagaimana dilarang dalam ajaran agama Islam.

Motif-motif batik tertentu yang banyak menampilkan ragam hias seperti manusia dan binatang mengalami pembahan yang sangat nyata.

Motif Semen misalnya, yang berarti semai bersemi adalah motif yang paling banyak mengalami pembahan.

Ornamen dasarnya berupa ragam hias binatang berkaki empat, burung, ular, ikan, dan katak harus diubah atau diganti.

Batik motif Semen Gurdo, yaitu batik dengan motif gambar burung garuda, tidak menampilkan wujud utuh burung garuda, tetapi hanya sayapnya.

Berbagai perubahan itu tentu berkaitan dengan ajaran agama Islam.

Disebutkan dalam Hadits Rasulullah SAW yang melarang penggambaran benda bernyawa. Penggambaran benda bernyawa dapat diartikan serbagai perbuatan menyaingi Tuhan.

Pada masa Kerajaan Mataram Islam, pesan itu terus dilanjutkan hingga masa-masa setelahnya. Para pemuka agama kala itu menjeiaskan kepada masyarakat, menggambar benda bernyawa adalah haram hukumnya.

 Akhirnya, seperti yang kita ketahui sekarang, batik dengan coraknya yang khas dan memiliki nilai estetika tersendiri telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia.

Jejak Islam yang melekat kuat di hati masyarakat Indonesia telah membawa pembahan besar pada motif batik dari masa sebelumnya.

Hal ini misalnya tercermin pada batik Rifa’iyah yang dengan jelas melarang penggambaran makhluk hidup karena tidak sesuai dengan ajaran agama Islam.