Pengaruh penjajahan jepang dan belanda terhadap batik

Pengaruh Penjajahan Belanda dan Jepang Terhadap Batik

Penjajahan Belanda dan Jepang

 Pada awal kemunculannya, corak dan ragam hias batik didominasi oleh motif tumbuhan dan binatang.

Namun, lambat laun sesuai dengan perkembangan zaman dan dinamika masyarakat, corak dan ragam hias batik mulai bergeser kepada motif abstrak yang menyerupai awan, relief candi, wayang beber; dan sebagainya.

Batik diperkirakan mulai tumbuh dan berkembang di masyarakat secara lebih tuas pada abad ke-17.

Seni dan keterampilan membatik semakin berkembang setelah akhir abad ke-18 hingga awal abad ke-19. ini dipengaruhi oleh penyebaran agama islam di indonesia yang di bawa para pedagang dan batik sebagai salah satu alatnya.

Sampai dengan awal abad ke-20, batik yang dihasilkan semua merupakan batik tulis.

Sementara itu, bahan pewarna yang digunakan untuk membatik merupakan bahan pewarna alami yang diproses dari tumbuhan yang tumbuh di Indonesia.

 Perkembangan dan perluasan persebaran batik ke berbagai wilayah di Indonesia juga dipengaruhi oleh sejarah penjajahan Belanda dan pendudukan Jepang.

Sebagai contoh, Perang Diponegoro yang berlangsung antara tahun 1825 hingga 1830, memperluas persebaran seni dan keterampilan membatik di berbagai wilayah di Jawa.

 Ketika itu terjadi pertempuran dalam Perang Diponegoro melawan tentara Belanda, sejumlah pasukan Kyai Maja mengundurkan diri ke arah timur yang sekarang bernama Majan dan Simo, Tulungagung.

Di tempat itu, pasukan Kyai Maj’ dan keluarganya mengajarkan masyarakat Majan cara membuat batik.

Setelah Perang Diponegoro usai, di tempat itu kemudian dikenal sebagai daerah perajin batik yang disebut Batik Majan.

Sejak masa penjajahan Belanda hingga masa kemerdekaan. Desa Majan berstatus sebagai “daerah Perdikan” (semacam daerah istimewa).

Desa itu dipimpin oleh seorang kiai sebagai kepala desa yang bersifat turun-temurun.

Seni dan keterampilan di Majan dan Simo merupakan peninggalan tradisi membatik pada masa Perang Diponegoro.

Corak warna Batik Majan dan Simo tergolong unik karena warna babarannya merah menyala (dari kulit warna lainnya dari tom.

 Pada masa penjajahan Belanda dan pendudukan Jepang, banyak keluarga raja abdi keraton yang mengungsi dan menetap di daerah-daerah baru.

Mereka tersebar berbagai daerah, antara lain ke Banyumas, Pekalongan, Ponorogo, dan Tulungagung.

Keluarga raja dan abdi keraton membawa tradisi membatik dan mengajarkan masyarakat dengan seni dan keterampilan membatik.

Sebagaimana kita ketahui, selanjutnya darah-daerah itu terkenal dengan seni dan keterampilan membatik hingga sekarang.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *